Induktor adalah komponen berupa lilitan kawat yang berfungsi menyimpan energi listrik dalam bentuk medan magnet. Ibarat roda berat: butuh waktu untuk mulai berputar, tapi sekali berputar butuh waktu juga untuk berhenti.
Satuan nilai induktor adalah Henry (H). Karena nilainya besar, yang sering dipakai adalah milihenry (mH) dan mikrohenry (µH).
• Saat arus naik: induktor menahan kenaikan arus → arus tertahan sejenak
• Saat arus tetap: induktor menjadi seperti kawat biasa → hampir tidak ada hambatan
• Saat arus turun/putus: induktor mengeluarkan tenaga tersimpan → tegangan balik yang bisa sangat tinggi!
• Penahan Perubahan Arus: Menghaluskan arus agar tetap stabil
• Penyaring Frekuensi: Menahan arus frekuensi tinggi, meloloskan arus searah
• Pembagi Sinyal: Bersama kapasitor membentuk rangkaian penala radio
• Catu Daya: Meratakan arus keluaran agar rata dan tenang
• Transformator: Dua induktor berdekatan — memindahkan energi tanpa sambungan kabel
a) Inti Udara
Hanya lilitan tanpa inti besi. Stabil, tidak jenuh, cocok untuk frekuensi tinggi seperti radio pemancar.
b) Inti Besi / Baja
Lilitan di sekeliling lempengan besi. Nilai induktansi besar, dipakai di catu daya frekuensi rendah dan jala-jala listrik.
c) Inti Ferit
Bahan keramik magnetik. Bagus untuk frekuensi menengah–tinggi, ukuran kecil tapi nilainya besar. Dipakai di alat elektronik modern.
d) Induktor Dapat Diatur
Inti bisa digeser masuk-keluar untuk mengubah nilai induktansi. Dipakai menyetel frekuensi radio.
Nilai induktansi ditentukan oleh 4 hal:
• Jumlah lilitan: makin banyak makin besar — berlipat ganda jika lilitan dua kali lebih banyak
• Luas penampang: makin besar makin besar
• Panjang lilitan: makin panjang makin kecil
• Bahan inti: inti besi/ferit ratusan kali lipat lebih besar dari inti udara
1 Henry (H) = 1.000 milihenry (mH)
1 mH = 1.000 mikrohenry (µH)
1 H = 1.000.000 µH
Contoh pemakaian:
• Frekuensi tinggi → µH
• Audio → mH
• Catu daya besar → H
Sama seperti resistor!
a) Seri — nilai dijumlahkan:
b) Paralel — makin kecil:
Induktor menahan arus bolak-balik tergantung frekuensinya, disebut reaktansi induktif (Xl):
f = frekuensi (Hertz) | L = induktansi (Henry)
• Frekuensi makin tinggi → hambatan makin besar → arus makin susah lewat
• Frekuensi 0 (DC) → hambatan hampir 0 → arus lewat dengan mudah
• Dipakai menyaring: biarkan DC lewat, tahan sinyal frekuensi tinggi
Keduanya sifatnya berkebalikan, sering dipakai berpasangan:
• Induktor → Meloloskan DC, menahan AC tinggi
• Kapasitor → Menahan DC, meloloskan AC tinggi
• Bersama-sama membentuk Rangkaian Penala — memilih frekuensi tertentu di radio
• Frekuensi resonansi:
• Setiap induktor punya batas arus — jika dilewati berlebih, inti jenuh dan nilainya turun drastis, kawat panas lalu putus
• Hambatan kawat: makin tipis makin besar hambatan → panas, daya hilang jadi panas
• Kerugian di inti: bolak-balik medan magnet menyebabkan inti panas — makin tinggi frekuensi makin besar kerugiannya
• Pilih induktor dengan batas arus 1,5–2 kali arus yang dipakai agar aman
Pakai multitester posisi hambatan:
• Nilai mendekati 0 Ω → lilitan baik ✅
• Tidak terhubung / tak terhingga → lilitan putus rusak ❌
• Nilai 0 tapi bau gosong → korslet antar lilitan rusak ❌
Untuk nilai tepat, butuh alat ukur khusus induktansi.
• Arus berlebih → panas, kawat putus, isolasi leleh
• Frekuensi terlalu tinggi → inti panas berlebih, nilai turun
• Guncangan fisik → lilitan lepas, nilai berubah
Memilih yang tepat:
• Sesuaikan nilai induktansi — µH untuk tinggi, mH untuk rendah
• Pilih batas arus lebih besar dari kebutuhan
• Sesuaikan bahan inti — Ferit untuk kecil & tinggi, Besi untuk daya & rendah